Info
  • Meninggalkan Warisan
    Amsal 13:22 Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar.
  • Good Idea Vs God's Idea
    Yesaya 55:8-9 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Disiplin Gereja


Kuasa dari gereja Sebuah negara memiliki kuasa atas rakyat yang dipimpinnya. Demikian juga sebuah perusahanan memiliki juga kuasa atas pegawai pegawainya, sekolah memiliki kuasa atas murid muridnya. Kuasa negara dan perusahaan itu sangatlah nyata. Pemerintah bisa menangkap dan memenjarakan orang orang yang melakukan kejahatan. Perusahaan bisa memecat mereka yang tidak taat kepada aturan aturan perusahaan. Sekolah bisa mengeluarkan murid yang berulang kali melakukan pelanggaran. Lalu bagaimana dengan gereja? Gereja kelihatannya sangatlah lemah dan sepertinya tidaklah memiliki kuasa. Kelihatannya gereja tidak bisa melakukan apa apa kepada anggota anggotanya yang melakukan dosa. Gereja sepertinya tidak memiliki kuasa atas pemimpin pemimpinnya yang melakukan pelanggaran. Majelis gereja atau anggota gereja yang melakukan pelanggaran tidak mendapatkan hukuman. Gereja terlihat sangat lemah kepada anggota anggotanya. Banyak terjadi pembiaran di dalam gereja. Hal ini disebabkan karena banyak pemimpin gereja tidak memahami bahwa gereja sebenarnya diberikan kuasa oleh Tuhan atas anggota anggota jemaatnya. Berkhof mengatakan bahwa ada tiga kuasa yang dimiliki oleh Gereja yang berkaitan dengan jabatan Kristus, yaitu, potestas dogmatic atau docendi, potestas gubernas dan potestas atau ministerium misericordiae. Potestas dogmatic, berarti gereja memiliki tugas ilahi dalam kaitannya dengan kebenaran, dimana gereja adalah saksi bagi kebenaran terhadap mereka yang belum memiliki kebenaran dan saksi serta guru bagi mereka yang sudah mengenal kebenaran. Potestas Gubernans berarti gereja memiliki kuasa dan hak untuk melaksanakan segala hukum yang ditetapkan oleh Kristus. Disiplin gereja termasuk dalam potestas Gubernans. Potestas atau ministerium misericodiae, ini merupakan kuasa dalam pelayanan. Yang termasuk dalam bagian ini adalah mengusir setan, pelayanan terhadap orang miskin. Wayne Grudem juga mengatakan hal yang serupa bahwa bahwa “kuasa gereja adalah kuasa yang diberikan Allah untuk melakukan peperangan rohani, untuk memberitakan Injil dan untuk melaksanakan disiplin gereja. Gereja sudah diberikan kuasa untuk melakukan peperangan rohani. Peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Paulus memerintahan agar mengambil seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Efesus 6:12-13. Gereja juga diberikan kuasa untuk memberitakan Injil Allah. Kuasa Injil melalui karya Roh Kudus inilah yang dipakai oleh gereja untuk menghancurkan hati yang keras dan membawa orang orang datang kepada Kristus. (Roma 10:17; Yakobus 1:18; 1 Petrus 1:23). Semua kuasa yang diberikan Allah ini dipakai ketika berhadapan dengan orang orang yang berada di luar gereja. Namun Tuhan bukan hanya memberikan kuasa untuk menghadapi mereka yang berada di luar gereja. Tuhan juga memberikan kuasa untuk menghadapi orang orang yang berada dalam gereja. Tuhan memberikan kuasa kepada gereja untuk menghadapi anggota gereja yang tidak manaati firman Allah. Hal ini dikatakan sendiri oleh Tuhan Yesus dalam matius 16:19, dimana Tuhan Yesus berbicara kepada Petrus : Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” Apa artinya kunci kerajaan surga? Istilah kunci yang dipakai dalam Perjanjian baru berarti otoritas untuk membuka pintu dan otoritas untuk mengijinkan masuk ke sebuah tempat. Kalau saudara membuka pintu rumah, berarti saudara memiliki otoritas untuk masuk dan mengijinkan orang lain untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia memegang segala kunci maut dan kerajaan maut (Wahyu 1:18 ). Ini artinya bahwa Dia memiliki otoritas untuk membuka pintu maut dan memiliki otoritas untuk mengijinkan orang untuk masuk ke dalamnya. Kunci kerajaan sorga berarti memiliki otoritas untuk memberitakan Injil dan membuka pintu kerajaan sorga dan menginjinkan orang untuk memasukinya. Petrus pertama kali memakai otoritasnya ini pada waktu hari Pentakosta (Kis 2:14-42). Rasul rasul yang lain juga diberikan otoritas ini untuk membukan pintu kerajaan sorga dan menginjinkan orang untuk memasukinya melalui pemberitaan Injil. Orang orang kristen pun diberikan oleh Tuhan otoritas ini, karena ketika kita memberitakan Injil kepada orang lain, maka ketika mereka percaya kepada Kristus, maka itu artinya kita membukan pintu kerajaan sorga bagi mereka. Namun istilah kunci ini bukan hanya mengijinkan orang untuk memasuki kerajaan sorga melalui pemberitaan Injil. Istilah kunci ini juga mencakup otoritas untuk melaksankan disiplin gereja. Istilah kunci yang dipakai dalam Matius 16:19 berbentuk jamak. Dalam Versi KJV, dikatakan seperti ini :”And I will give unto thee the keys of the kingdom of heaven? Kata yang dipakai adalah keys. Ini berarti ada lebih dari satu kunci dan lebih dari satu pintu. Otoritas ini bukan hanya untuk masuk ke dalam kerajaan Allah, melainkan juga otoritas di dalam kerajaan itu sendiri. Hal ini dijelaskan kembali oleh Tuhan Yesus ketika Dia mengatakan bahwa sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. (Mat 18:18). Gereja dibeirkan kuasa untuk mengikat dan diberikan kuasa untuk melepaskan. Konteks dalam Matius 18 sangatah jelas berhubungan dengan dosa yang dilakukan dalam sebuah jemaat dan kemudian gereja memakai wewenangnya untuk menangani hal tersebut. Tuhan Yesus berkata : “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. (Mat 18:15-18). Dalam ayat 17 nampak kuasa itu dipakai oleh gereja, yakni gereja diberikan wewenang untuk memandang anggota gereja yang berbuat dosa itu sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Gereja juga diberikan weenang bukan hanya untuk mengikat melainkan juga untuk melepaskan. Tuhan Yesus memberikan dua kunci kepada gereja, yakni pertama kunci kerajaan sorga untuk membawa orang masuk ke dalamnya melalui pemberitaan Injil dan kunci untuk melepaskan yakni otoritas untuk melaksanakan disiplin gereja bagi mereka yang sudah masuk ke dalam kerajaan Allah. Pengakuan Iman Westminster dalam Bab mengenai Sanksi gerejawi menuliskan bahwa “kepada pejabat-pejabat ini, telah diserahkan kunci kunci kerajaan sorga yang dengannya mereka memiliki kuasa, untuk menyatakan dosa-dos orang tetap ada tau mengampuni dosa-dosa, untuk menutup Kerajaan dari emreka yang tidak bertobat, baik melalui Firman dan sanksi-sanksi; dan untuk membuka kerajaan bagi orang-orang berdosa yang bertobat, melalui pelayanan Injil dan pembebasan dari sanksi sanksi sebagaimana yang dituntut oleh keadaan. Kuasa yang diberikan kepada gereja bukanlah kuasa yang tidak terbatas. Kuasa ini hanya diberikan untuk melawan dosa dalam jemaat (matius 18:15). Standard yang dipakai tentu adalah firman Tuhan. Disiplin yang dilaksanakan oleh gereja memiliki efek sorgawi, sebab apa yang diikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang dilepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (Matius 16: 19. Matius 18:18). Ketika gereja melakukan disiplin maka gereja dapat yakin bahwa Allah sudah melakukan disiplin itu terlebih dahulu secara spiritual, sebab Allah yang lebih dulu mengetahui dosa yang dipebruat oleh anggota jemaat yang berdosa ini. Orang kristen yang diberikan disiplin gereja seharusnya menjalani disiplin gereja itu dengan taat da tidak lari dari disiplin tersebut, karena Allah sendiri juga sebenarnya sedang menaruh mereka dalam disiplin. TUJUAN DARI DILAKSANAKANNYA DISIPLIN GEREJA Pengakuan Iman Westminster dalam bab XXX,3. Mengatakan: sanksi-sanksi gereja diperlukan untuk memulihkan dan mendapatkan kembali saudara kita yang melakukan pelanggaran, untuk mencegah yang lain melakukan pelanggaran yang sama, untuk mengeluarkan ragi yang bisa mengkhamiri seluruh adonan, untuk memurnikan kehormatan dan pengakuan kudus akan Injil dan untuk mencegah murka Allah yang bisa ditumpahkan secara adil ke atas Gereja jika mereka melanggar kovenanNya dan jika materai materaiNya dinajiskan oleh pelanggar pelanggar yang keji dan keras kepala. Pertama, memperbaiki dan memulihkan anggota jemaat yang sudah tersesat. Disiplin gereja merupakan sarana untuk memperbaiki dan memulihkan kembali anggota jemaat yang melakukan pelanggaran. Alkitab membuktikan bahwa disiplin gereja sebagai sarana itu. Tegoran dari beberapa orang terhadap saudara yang berdosa, merupakan sebuah sarana untuk membawa orang itu kembali kepada pertobatan. Paulus mengatakan hal ini dalam Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu, sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat. Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia. (2 Kor 2:6-8). Tujuan dari disiplin gereja nampak jelas, bukan dilakukan atas dasar kebencian melainkan atas dasar kasih. Disiplin gereja bukan dilakukan atas dasar untuk membuang seseorang, melainkan untuk memperbaiki dan memulihkan anggota jemaat yang sudah tersesat. Banyak Pemimpin Gereja enggan melaksanakan disiplin gereja karena takut nanti orang lain akan tersinggung. Bagaimana kalau dia tersinggung ketika dosanya ditegur? Daripada menegor dia, lebih mendoakan dia agar bertobat. Cara ini dianggap lebih baik daripada menjalankan disiplin gereja karena lebih menunjukka kasih kepada yang berdosa dan menunjukkan diri kita rendah hati, sebab kita tidak kasar dan tidak memiliki roh penghakiman. Pandangan ini kelihatannya saleh karena tidak mau menyinggung perasaan orang lain. Namun sebenarnya pandangan seperti ini salah. Jika seseorang menyalahkan gereja yang melaksanakan disiplin gereja, maka berarti Kristus juga salah karena menetapkan Pandangan seperti ini. Pada waktu gereja hanya mendoakan saudara yang berdosa, tetapi pada saat yang sama menolak untuk menjalankan disiplin, maka ini sama dengan orang yang berdoa saja minta makan tetapi tidak mau bekerja. Padahal Tuhan memerintahkan untuk berdoa dan bekerja. Disiplin gereja mungkin akan membuat orang lain tersinggung, namun itu lebih baik daripada dia jatuh lebih jauh ke dalam dosa. Memperbaiki dan memulihkan adalah tujuan dari disiplin gereja. Jemaat yang sudah berdosa harus diperbaiki tingkah lakunya. Misalnya mereka yang sudah melakukan dosa perzinahan, diberikan disiplin gereja dengan maksud agar mereka meninggalkan dosa seksual tersebut. Jika kasus perzinahannya baru sampai pada tingkat pertama, yakni ketika ditegur dengan empat mata, dia bertobat, maka orang tersebut tidak perlu dilakukan pemulihan dihadapan jemaat. Dia hanya perlu dipulihkan dihadapan Tuhan, sebab dosanya belumlah diketahui oleh seluruh jemaat dan dia sudah bertobat ketika ditegur dengan empat mata. Namun ketika kasus perzinahannya ini sudah sampai ketingkat jemaat, lalu dia bertobat, maka orang tersebut selain diperbaiki tingkah lakunya dia juga mesti dipulihkan hubungannya dengan Tuhan dan jemaatNya. Tujuan dari disiplin gereja bukanlah untuk menghukum atau keinginan untuk membalas dendam tetapi untuk memulihkan dan menyembuhkan.Pada waktu seorang anggota gereja mengunjungi saudara yang bersalah itu, maka tujuannya bukanlah untuk mengucilkan saudaranya, tetapi mengupayakan pemulihannya. Kedua, Mencegah agar dosa jangan menyebar ke jemaat Tujuan dari disiplin gereja adalah mencegah jangan sampai dosa yang diperbuat oleh salah seorang anggota jemaat menyebar kepada anggota jemaat lainnya. Misalnya jika ada sebuah konflik antara anggota jemaat, dan konflik ini tidak segera diselesaikan, maka ini bisa menimbulkan perpecahan. Dosa kepahitan tadi akhirnya menyebar ke seluruh jemaat dan membuat gereja pecah. Dosa apapun itu yang dilakukan oleh jemaat, jika tidak ditangani akan dosa itu menyebar dan jemaat merasa boleh melakukan dosa dosa itu. Disiplin gereja bertujuan untuk mencegah hal hal seperti itu terjadi, seperti dituliskan oleh penulis kitab Ibrania: “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. (Ibr 12:15). Sebelum akar pahit itu menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang, mesti segera ditangani dengan disiplin gereja. Paulus mengatakan bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan (1 Kor 5:6). Paulus mengatakan ini dalam konteks bahwa ada percabulan di antara jemaat korintus, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya. Paulus mengatakan, “tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu? Paulus mengatakan bahwa “sekalipun secara badani dirinya tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku–sama seperti aku hadir dan aku –telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu. Lalu dia berkata bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan? (1Kor 5:1-7). Jika anggota gereja yang melakukan dosa tidak diberikan disiplin gereja, maka anggota jemaat yang lain akan ikut juga melakukan dosa tersebut, sebab mereka melihat bahwa gereja tidak memberikan perhatian terhadap dosa itu. itu artinya mereka juga boleh melakukan dosa yang sama. Mereka akan berpikir bahwa dosa yang dilakukan oleh anggota jemaat tersebut tidaklah terlalu buruk sehingga boleh diikuti. Manusia adalah mahluk berdosa. Tidak ada yang lebih alamiah bagi manusia selain berbuat dosa. Ketika kesalahan dibiarkan, maka itu pasti akan menyebar. Dosa yang ditoleransi akan memberikan undangan bagi yang lain untuk melakukan juga dosa tersebut. Paulus juga memberitahukan kepada Timotius agar penatua yang berbuat dosa hendaklah ditegor di depan semua orang agar yang lain itupun takut. (1Tim 5:20). Dalam Perjanjian Lama pun prinsip ini sudah dipakai. “Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat kepadamu maupun yang jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi, maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya, tetapi bunuhlah dia! Pertama-tama tanganmu sendirilah yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. Engkau harus melempari dia dengan batu, sehingga mati, karena ia telah berikhtiar menyesatkan engkau dari pada TUHAN, Allahmu, yang telah membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. Maka seluruh orang Israel akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu.“ (ulangan 13:6-11). Kelihatannya lebih sadis, namun inilah tujuan daripada disiplin, yakni agar anggota jemaat yang lain menyadari bahwa dosa tidak bisa ditoleransi dan akan menerima disiplin baik itu dari gereja maupun dari Tuhan sendiri. Ketiga, Untuk melindungi kekudusan gereja dan kemuliaan Kristus Setiap orang memang masih berbuat dosa. hati orang orang kristen belumlah sepenuhnya murni. Namun ketika seorang anggota gereja terus menerus berbuat dosa dan orang orang yang belum percaya kepada Kristus melihat akan hal itu, maka ini tentu mempermalukan Kristus. Hal ini sama halnya ketika bangsa Yahudi tidak menaati hukum hukum Allah yang menyebabkan nama Allah dihujat oleh bangsa bangsa kafir. Paulus memberikan teguran ini dalam Roma 2:24 Seperti ada tertulis: “Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa lain.” Tuhan ingin agar gerejaNya cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. (Efesus 5:27), karena Dia adalah kepala gereja. Gereja merefleksikan karakter dan sifat sifat kristus.Oleh sebab itu disiplin gereja harus dilakukan untuk melindungi kekudusan gereja dan kemuliaan Kristus. Para Pemimpin Gereja berkewajiban mempertahankan kemuliaan Kristus di dalam gerejaNya melalui disiplin gereja. Gereja seringkali tidak mau melaksanakan disiplin gereja terhadap saudara yang berdosa karena tidak mau kehilangan anggota jemaat. Sebenarnya, lebih baik mempertahankan kemuliaan Kristus daripada mempertahankan satu atau dua orang yang tidak menghormati Kristus. Lebih baik mempertahankan kebenaran Kristus daripada sekedar memuaskan manusia. Lebih baik menghormati Kristus dan menaatiNya daripada memanjakan orang orang berdosa. Pemimpin gereja harus memilih antara dua hal ini, yakni mempertahankan kemuliaan Kristus dengan segala akibatnya atau mengorbankan kemuliaan Kristus demi supaya gereja tidak kehilangan anggotanya. Jika kita memilih yang kedua, maka gereja “ tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (matius 5:13). DOSA DOSA APAKAH SAJA YANG PERLU DIDISPLIN Dosa yang perlu disiplin adalah ketika ada seseorang berdosa kepada anggota jemaat yang lain dan tidak dapat diselesaikan secara personal atau di dalam kelompok kecil, maka kasus tersebut harus dibawa ke jemaat. Hal ini dinyatakan dalam Matius 18:15-17. Dalam kasus ini, masalah sudah berkembang dari pribadi ke umum dan sudah berkembang dari situasi informal ke umum atau ke hadapan jemaat. Dosa yang perlu di disiplin adalah dosa pelanggaran terhadap 10 hukum Allah. Jika ada jemaat yang tidak melanggar hukum Allah namun hanya melanggar tradisi gereja, maka pelanggaran itu tidak patut di disiplin. Dosa dosa lain yang perlu disiplin adalah dosa yang menyebabkan perpecahan (Roma 16:17), percabulan (1 Kor 5:1), kemalasan dan menolak untuk bekerja (2 Tes 3:6-10), ketidaktaatan terhadap apa yang Paulus tuliskan (2 Tes 3:14-15), menghujat (1 Tim 1:20); pengajaran sesat (2 Yoh 10-11). Semua dosa-dosa publik mesti disiplin, misalnya koruptor, penggelapan uang, penipuan, kebohongan publik, dll dimana Kristus dipermalukan dan dapat membuat orang lain meniru perbuatan dosa tersebut. Pengucilan tidak ada kaitannya dengan berat dosa, melainkan dengan kekerasan hati orang berdosa itu untuk terus melakukan dosa, apapun dosanya. Seringkali kita berpikir bahwa disiplin gereja diberikan kalau seseorang melakukan dosa berat seperti dosa pembunuhan, atau dosa perampokan, atau karena menyembah ilah lain, dosa seksual. Sebenarnya, walaupun dosanya hanyalah gossip, tidak mau bayar hutang, fitnah, namun jika orang berdosa itu tetap mengeraskan hatinya dan terus menerus melakukan dosa itu tanpa ada tanda tanda pertobatan, pengucilan harus dilakukan atas diri orang tersebut. BAGAIMANAKAH DISIPLIN GEREJA DILAKUKAN? Pertama, Sedapat mungkin dosa diselesaikan dalam lingkup yang kecil Hal inilah yang dimaksud dalam Matius 18:15-17 dimana penyelesaian itu dimulai dengan empat mata, barulah sesudah itu memanggil dua atau tiga orang saksi dan yang paling terakhir adalah persoalan itu disemapikan kehadapan jemaat. Disiplin gereja ini sedapat mungkin diselesaikan dalam lingkup kecil. Lebih sedikit orang yang mengetahui masalah dosa anggota jemaat akan lebih baik karena pertobatan akan lebih mudah, lebih sedikit yang akan tersesat dan lebih sedikit kerusakan akan terjadi atas reputasi si pendosa. Kedua, Disiplin gereja dan sanksi nya harus bertahap sampai ada penyelesaian Tahapan pertama adalah apabila ada anggota jemaat berbuat dosa, maka tegorlah dia dibawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihat kita, maka kita telah mendapatnya kembali. (Mat 18:15). Proses ini berlangsung beberapa kali. Ada usaha yang sungguh sunggh dari anggota jemaat ini untuk memenangkan saudaranya yang berdosa. Saudara yang berdosa ini juga diberikan kesempatan untuk berpikir dan bertobat sebelum masuk ke tahap kedua. Setelah ditegor berkali kali dan kelihatannya tidak ada perubahan maka masuk ke tahapan kedua, yakni bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.(Mat 18:16). Dua atau tiga orang ini adalah para pemimpin gereja yang menegur, menasehati (1 Tes 5:12; 2 Tim 4:2; Titus 1:13). Para pemimpin gereja ini juga memberikan teguran dan nasehat, penggembalaan secara berkali kali dan terus berdoa agar saudara yang berdosa ini kembali ke jalan yang benar. Namun setelah di nasehati berulang kali dan tetap tidak ada pertobatan, maka sudah waktunya saudara yang berdosa ini diberikan sanksi, yakni menurut Berkhof, adalah excommunication minor, yaitu melarang saudara yang berdosa ini ambil bagian dalam perjamuan kudus. Disiplin ini tidak bersifat public, karena belum masuk ke tahap ketiga. Hanya para pemimpin gereja dan saudara yang berdosa itu yang mengetahui. Selama proses itu, dimana saudara yang berdosa ini tidak boleh ikut perjamuan kudus, para pemimpin gereja secara tetap dan terus menerus memberikan peringatan agar orang itu bertobat. Namun jika orang itu tetap tidak bertobat, maka Yesus berkata:” beritahukanlah kepada jemaat (Mat 18:17). Berkhof mengusulkan ada tiga kali pengumuman kepada jemaat. Pertama, diumumkan kepada jemaat bahwa ada anggota jemaat kita, NN, yang sudah melakukan dosa, misalnya penipuan. Nama saudara yang berdosa tersebut tidak disebutkan, hanya dosanya yang diberitahukan kepada jemaat untuk didoakan agar orang tersebut bertobat. Kedua, Jika orang tersebut tetap tidak bertobat, maka namanya pun diumumkan kepada jemaat, beserta dosa dosanya, hanya tidaklah terperinci. Setelah nama dan dosa dari saudara yang berdosa itu diberitahukan kepada jemaat, dan dia tetap tidak bertobat, apa yang harus dilakukan oleh pemimpin gereja? Perhatikanlah Mat 18:17 “Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. (Mat 18:17). Artinya saudara yang berdosa tersebut mesti diberikan excommunication major, dimana seseorang yang berdosa sepenuhnya dikeluarkan dari persekutuan gereja (Mat 18:17; 1 Kor 5:13; Titus 3:10-11) Ketika Tuhan Yesus memberikan perintah tentang disiplin gereja ini, Dia mengingatkan bahwa gereja adalah milikNya dan kuasaNya ada dibelakang setiap keputusan yang dibuat oleh gereja. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:19-20). Tuhan Yesus berjanji hadir dalam setiap pertemuan yang diadakan oleh umatNya. Namun di bagian ini Dia berjanji hadir dalam setiap keputusan yang berhubungan dengan disiplin gereja. Pemimpin gereja yang berdoa terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan mengenai disiplin gereja terhadap anggota jemaat yang berdosa, diberikan janji bahwa Tuhan akan hadir dan memimpin dalam keputusan keputusan mereka. Paulus juga memberitahukan hal yang sama kepada jemaat korintus tentang disiplin kepada saudara yang berdsoa. Paulus berkata :” Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan. (1Kor 5:4-5). Disiplin gereja itu dilakukan dengan kuasa Yesus yang telah diberikanNya kepada gereja. Hal selanjutnya yang perlu dilakukan oleh gereja adalah memberitahukan jemaat bahwa mereka dilarang bergaul dengan orang yang sudah dikucilkan oleh gereja. Paulus mengatakan ini Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. (1 Kor 5:11). Hal yang sama juga diberithaukannya kepada jemaat Tesalonika: “Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. (2 Tesalonika 3:6). dan Lebih lanjut lagi Paulus berkata, “Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu, tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara. (2 Tesalonika 3:14-15). Rasul Yohanes juga mengatakan hal yang sama dalam 2 Yohanes 1: 10-11, “Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.” Proses Disiplin gereja bagi Penatua jauh lebih keras dan berhati hati. Dalam 1 Timotius 5:19-21 dituliskan bahwa ,”Janganlah engkau menerima tuduhan atas seorang penatua kecuali kalau didukung dua atau tiga orang saksi. Mereka yang berbuat dosa hendaklah kautegor di depan semua orang agar yang lain itupun takut. Di hadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihan-Nya kupesankan dengan sungguh kepadamu: camkanlah petunjuk ini tanpa prasangka dan bertindaklah dalam segala sesuatu tanpa memihak. Disini paulus memberikan peringatan yang khusus untuk melindungi penatua dari serangan individu individu yang tidak senang kepadanya. Oleh sebab itulah dibutuhkan dua atau tiga orang saksi. Bila penatua itu memang berbuat dosa, maka penatua itu harus ditegur di depan umum. ini dilakukan karena contoh yang buruk dari dosa dosa yang dilakukan oleh penatua akan menyebar dalam kehidupan anggota jemaat. anggota jemaat akan melihat contoh dari pemimpinnya. Pada saat penatua ditegur di depan umum, tentunya tidak semua dosanya secara mendetail diceritakan kepada jemaat. Dosa penatua itu disampaikan dengan bijaksana, sehingga jemaat mengerti bahwa betapa seriusnya dosa tersebut, dan mereka dapat mendukung disiplin gereja yang dilakukan atas diri pentua tersebut . walaupun tidak dibertahukan secar mendetail, namun jemat dapat mengerti bahwa dosa tersebut tidak dibuat kecil dan tidak ditutup tutupi. Pada saat melakuka disiplin kepada penatua, maka penatua yang melakukan disiplin tidaklah boleh memihak, walaupun itu temannya. Timotius diingatkan agar bertindak tanpa memihak. Sikap dari tindakan disiplin yang dilakukan secara bertahap, jug harus dilakukan dengan kerendahan hati dan kelemahlembutan. Sikap pemimpin gereja yang melaksanakan disiplin gereja haruslah dengan gentar dan menyadari kelemahannya bahwa dirinya pun bisa jatuh ke dalam dosa yang sama. Paulus mengatakan seperti ini,”Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan” (Gal 6:1) Berapa lamahkah proses disiplin gereja berlangsung? 3 bulan? 6 bulan? 1 tahun? kita tidaklah bisa menentukan lamanya proses disiplin gereja akan berlangsung. Tidaklah bijaksana memberitahukan berapa lama sebuah disiplin gereja akan berlangsung karena kita tidak mungkin mengetahui sampai berapa lama Roh Kudus bekerja dalam diri orang itu supaya orang tersebut bertobat.